data sebagai hak asasi

mengapa perusahaan teknologi harus membayar kita atas data pribadi

data sebagai hak asasi
I

Pernahkah teman-teman menyadari rutinitas kita setiap pagi? Alarm berbunyi, mata baru setengah terbuka, dan tangan kita secara otomatis meraih ponsel. Kita membuka media sosial, membalas pesan, atau membaca berita. Semuanya terasa gratis, bukan? Kita tidak perlu membayar tiket masuk untuk menggulir linimasa.

Namun, ada sebuah paradoks yang cukup menggelitik pikiran saya akhir-akhir ini. Jika semua aplikasi ini gratis, bagaimana mungkin perusahaan-perusahaan pembuatnya bisa menjadi entitas terkaya dalam sejarah peradaban manusia? Valuasi mereka mencapai triliunan dolar. Jawabannya sebenarnya sudah sering kita dengar: jika kita tidak membayar untuk sebuah produk, maka kitalah produknya.

Tapi, mari kita berhenti sejenak dan berpikir lebih kritis. Apakah kita benar-benar hanya sekadar "produk"? Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari, kita adalah pekerja tidak dibayar yang sedang membangun kekaisaran teknologi terbesar di dunia? Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah lubang kelinci yang sangat menarik.

II

Untuk memahami absurdnya situasi kita saat ini, kita perlu melihat sedikit ke belakang. Pada abad ke-19, dunia digemparkan oleh demam emas dan minyak bumi. Para taipan menggali tanah, menyedot sumber daya alam, dan mengklaimnya sebagai milik mereka. Hari ini, sejarah berulang. Namun, sumber daya yang diekstraksi bukanlah minyak dari dalam perut bumi, melainkan data dari dalam kepala kita.

Secara psikologis, perusahaan teknologi sangat memahami cara kerja otak manusia. Mereka mendesain aplikasi yang mengeksploitasi sistem penghargaan atau reward system di otak kita. Setiap like, notifikasi, atau video lucu melepaskan dopamin. Sebagai gantinya, kita dengan sukarela menyerahkan data lokasi, kebiasaan belanja, detak jantung dari smartwatch, hingga durasi waktu kita menatap sebuah foto.

Kita merasa ini adalah pertukaran yang adil. Kita menukar privasi dengan kenyamanan. Google Maps memberi kita rute tercepat untuk pulang, dan sebagai gantinya mereka tahu persis di mana kita tinggal dan bekerja. Tapi di sinilah letak ilusinya. Kita mengira data yang kita berikan nilainya kecil, padahal ia adalah bahan bakar utama bagi mesin uang yang masif.

III

Sekarang, mari kita masuk ke bagian sains yang sedikit lebih keras. Apa yang sebenarnya terjadi pada data kita?

Seorang sosiolog bernama Shoshana Zuboff menyebut fenomena ini sebagai surveillance capitalism atau kapitalisme pengawasan. Data kita tidak hanya digunakan untuk menampilkan iklan sepatu yang kebetulan baru saja kita bicarakan. Lebih jauh dari itu, data kita dikumpulkan untuk melatih kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Setiap kali kita membuktikan bahwa kita bukan robot lewat CAPTCHA, kita sebenarnya sedang melatih algoritma mobil otonom untuk mengenali lampu lalu lintas. Setiap kalimat yang kita ketik, melatih mesin penerjemah. Setiap pola perilaku kita dianalisis untuk membuat model prediksi (predictive modeling). Mesin-mesin ini belajar menebak apa yang akan kita beli, siapa yang akan kita pilih dalam pemilu, hingga kapan kita merasa sedih atau rentan.

Di sinilah letak celahnya. Perusahaan teknologi membutuhkan volume data yang masif agar algoritma machine learning mereka bisa berfungsi. Tanpa data historis dan real-time dari kita, kecerdasan buatan hanyalah cangkang kosong yang bodoh. Kita adalah guru, bahan bakar, sekaligus pekerja purnawaktu bagi mereka. Lalu, mengapa kita tidak mendapat sepeser pun dari keuntungan triliunan dolar yang mereka hasilkan?

IV

Inilah realitas baru yang harus mulai kita terima: data bukanlah sekadar jejak digital atau efek samping dari penggunaan internet. Data adalah hak asasi manusia, dan menciptakan data adalah sebuah bentuk pekerjaan.

Data adalah ekstensi dari identitas kita. Ia berisi memori, preferensi, kelemahan, dan harapan kita. Mengambil data tanpa kompensasi yang layak, pada dasarnya adalah bentuk eksploitasi modern. Bayangkan sebuah paradigma baru di mana perusahaan teknologi diwajibkan untuk membayar "dividen data" kepada kita.

Setiap kali algoritma mereka menggunakan profil kita untuk menghasilkan uang dari pengiklan, kita mendapat komisi kecil (micro-royalty). Setiap kali foto kita digunakan untuk melatih AI pembuat gambar, kita menerima royalti. Ini bukan konsep sosialis yang radikal, teman-teman. Ini adalah prinsip ekonomi kapitalis paling dasar: jika aset milik kita digunakan untuk menghasilkan keuntungan, kita berhak mendapat bagian. Perusahaan teknologi harus mulai memperlakukan kita bukan sebagai "pengguna" yang bisa diperah, melainkan sebagai pemegang saham dalam ekonomi digital.

V

Saya tahu, ide agar raksasa Lembah Silikon tiba-tiba mentransfer uang ke rekening kita setiap bulan terdengar seperti utopia. Sistem yang ada saat ini sudah terlalu menggurita, dan undang-undang privasi kita masih sering tertinggal jauh di belakang inovasi teknologi.

Namun, setiap perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai dari pergeseran cara pandang. Kita tidak bisa menuntut hak kita jika kita sendiri tidak menyadari nilai dari apa yang kita miliki. Mulai hari ini, mari kita berhenti merasa beruntung karena diberikan aplikasi gratis yang canggih. Sebaliknya, mari kita sadari bahwa merekalah yang beruntung memiliki kita.

Pikiran kita, perhatian kita, dan data kita adalah aset paling berharga di abad ke-21. Sudah saatnya kita menuntut penghargaan yang setimpal atas diri kita sendiri, bukan hanya secara moral, tapi juga secara finansial. Karena pada akhirnya, masa depan teknologi tidak ditulis oleh kode komputer, melainkan oleh jejak kemanusiaan kita.